Get Adobe Flash player

Budidaya dengan Tumpangsari memperbaiki ekosistem

pertanian organik terpadu

pertanian organik terpadu

Model pertanian monokultur atau satu jenis telah menjadikan hasil yang kurang variatif serta tak mampu menyiasati pasar. Bahkan kini telah menghasilkan ketergantungan yang tinggi atas berbagai produk pertanian dari luar yng sebenarnya dapat dikembangkan secara tumpangsari dengan tanaman utama. Sebenarnya tidak perlu lagi kita tergantung terigu impor bilamana kita kembangkan aneka umbi-umbian secara tumpangsari di pekarangan atau kebun kita. Kita juga tak perlu lagi impor kedelai bilamana hutan dan kebun kita ditumpangsari antara tanaman kayu-kayuan dengan aneka jenis koro-koroan. Ketika harga padi rendah, kita masih dapat mengandalkan aneka panenan palawija dan sayuran pada lahan surjan.

Dengan tumpang sari atau tumpang gilir akan memungkinkan kita untuk mengkombinasikan aneka jenis tanaman dengan umur panen dan masa panen yang berbeda-beda sehingga cukup bagi petani untuk memperoleh pemasukan secara berkala. Selain itu model pertanian tumpangsari ini mengembalikan keseimbangan ekosistem.

Beberapa pertimbangan yang melandasi perlunya teknologi tersebut antara lain :

  1. Adanya hukum yang menyatakan bahwa semakin beranekaragam tanaman dalam suatu ekosistem maka semakin stabil pula ekosistem tersebut
  2. Alam merupakan tempat tinggal hidup aneka ciptaanNya
  3. Populasi hama mudah berkembang tak terkendali pada lahan monokultur
  4. Iklim mikro akan lebih stabil pada areal hutan primer
  5. Sumberdaya alam yang ada bisa termanfaatkan secara optimal (cahaya, udara, makanan dalam tanah, air dll.)
  6. Variasi tanaman akan memberikan variasi nutrisi yang dibutuhkan tubuh kita
  7. Bilamana terjadi kemerosotan harga pada komoditas pertanian tertentu, maka kita dapat menggantinya dengan komoditas yang lain saat itu juga.
  8. Memelihara rantai makanan dan jaring-jaring kehidupan
  9. Adanya kenyataan bahwa tanaman bila jenisnya berbeda maka kebutuhannya juga berbeda, umur berbeda maka kebutuhannya juga berbeda.

Secara praktis, maka teknologinya bila disederhanakan adalah sebagai berikut :

  1. Gunakan pagar hidup keliling kebun.
  2. Susunlah aneka jenis tanaman dengan tajuk dan posisi perakaran bertingkat (tanaman bertingkat membantu kestabilan suhu dan kelembaban).
  3. Susunlah aneka jenis tanaman secara bervariasi dengan waktu tanam dan panen yang tidak sama.
  4. Susunlah dalam rumus kombinasi  tanaman oyot-oyotan, kekayon/batang, gegodhongan, kekembangan, woh-wohan dan gegedhangan/”gedhang kluthuk” ataugayabertani ‘Mataraman’.
  5. Gunakanlah mulsa alami untuk menjamin kestabilan suhu dan kelembaban tanah serta sebagai cadangan makanan bagi kesuburan tanah dan tanaman.
  6. Kombinasikan aneka sayuran daun dalam bedhengan yang sama.
  7. Kombinasi dapat pula berupa variasi bau tanaman, variasi warna, variasi tekstur daun dll.

Untuk memulai pengembangan teknologi tumpangsari tumpang gilir maka perlu ditempuh beberapa langkah sebagai berikut :

  1. Kenali betul masa tanam, cara tanam, proses tumbuh dan berkembangnya, jenis-jenishamadan penyakitnya, aneka teknik pengendaliannya,masa panen per tanaman dll
  2. Buatlah aneka bentuk/skema “proses perkembangan tanaman dan kegiatan bertani” dari waktu-ke waktu untuk aneka jenis tanaman (bisa berdasar pengalaman sendiri, pengalaman petani yang lain, dari buku-buku dll.)
  3. Susunlah model kombinasi jenis tanaman yang mungkin (akan sangat baik bila ada ujicoba kombinasi jenis tanaman, masa tanam, dan posisi tanaman)
  4. Buatlah rencana kerja pengelolaannya (posisi tanaman dan urutan penanaman)
  5. Segera cari berbagai alat, bahan dan benih yang diperlukan dan lakukan seterusnya.

Leave a Reply

%d blogger menyukai ini: