Get Adobe Flash player

Posts Tagged ‘musuh alami’

Si Teman Kecil Petani yang Pandai Menjagai Padi

laba-laba loncat - phidipus sp-merupakan predator atau musuh alami yang memangsa hama wereng walang dan serangga kecil lainnya

laba-laba loncat - phidipus sp-bisa melahap 2-8 ekor belalang saban harinya.

Laba-laba loncat (Phidippus sp) merupakan sahabat petani karena secara alami memangsa beberapa jenis hama padi. Teman petani ini menyukai kondisi yang kering (lahan kering)  dan tinggal (berada) di daun padi. Biasanya mereka bersembunyi di dalam rongga kecil dalam lipatan daun sebagai tempat hidup sekaligus menunggu mangsa berupa wereng, belalang dan serangga kecil lainya. Laba-laba dewasa dapat memakan 2-8 mangsa setiap harinya.

Laba-laba betina menjagai kelompok telur dan menghasilkan 60-90 keturunan. Dengan siklus hidup 2-4 bulan, teman kecil petani kita ini dapat menjagai areal persawahan dari merebaknya hama wereng, belalang, dsb. Tentu saja, penggunaan pestisida kimia akan menganggu atau bahkan melenyapkan keberadaan mereka.

Burung hantu Jawa / Serak Jawa (Tyto Alba) Sang Pengendali Tikus

Rumah-rumahan yang sengaja dipasang di areal persawahan guna sarang Burung Hantu /Serak Jawa (Tyto alba) yang menjadi musuh alami hama tikus.Sepasang burung hantu bisa melindungi 25 hektar tanaman padi. Dalam waktu satu tahun, satu ekor burung hantu dapat memangsa 1300 ekor tikus.Penggunaan burung hantu bisa menurunkan serangan tikus pada lahan perkebunan maupun pertanian hingga di bawah 5 persen.

Burung hantu merupakan predator alami dari hama tikus dan musuh bebuyutan tikus di alam bebas. Burung hantu lebih efektif dibandingkan pengendalian tikus menggunakan racun tikus, gropyokan (perburuan tikus melibatkan banyak orang secara bersama-sama dan serempak) dan lain-lain. Sebagai predator alam, burung hantu jenis Serak Jawa merupakan pemburu tikus yang paling populer dan andal, baik di perkebunan kelapa sawit maupun di pertanian padi.  Dari segi biaya, pengendalian serangan tikus menggunakan burung hantu lebih rendah 50 persen dibandingkan penanggulangan tikus secara kimiawi.